22/01/17

Mencari Pekerjaan

Rumah makan 1.
“Mau pesen apa?”
“Saya, mau cari kerja bu,” muka sok melas.
“Aduh maaf ya, gak ada!” mukanya si ibu langsung garang.
“Baik bu,” keluar tanpa perlawanan.
Rumah makan 2
Gue masuk perlahan. Kebetulan warungnya lumayan sepi. Gue mendekati satu ibu-ibu yang lagi duduk. Gue rasa itu adalah si yang punya warung. Pas mau ngomong gue melihat ada yang meluber dari sudut matanya. Waduh! Apaan itu? Air mata? Ibu itu yang sedari sibuk dengan dunianya melirik gue. Mati. Ini mah serem banget, ada juga nanti gue ikutan nangis. Gue kan paling baper liat orang nangis. Gue akhirnya hanya bisa kabur.

Beberapa rumah makan gue lalui, hasilnya nihil. Apa memang sesulit itu mencari pekerjaan di jaman sekarang? Gue berubah tempat tidak lagi ke rumah makan atau warung. Kali ini gue mulai berjalan ke penjual kaki lima. Pokoknya hari ini gue harus berhasil cari kerja! Malu jadi pengangguran terus.
Gue mendekati pedagang kaki lima yang menjual nasi pecel.
                “Bu, saya boleh kerja di sini gak, Bu?”
                “Yampun Si Eneng dari mana asalnya? Kenapa mau kerja di sini?”
                “ Dari Pamulang Bu.”
                “Yampun neng jauh sekali. Pamulangnya dimananya? Aduh neng, ibu teh gak ada pekerjaan buat eneng,”
                “Tolong lah Bu. Buat sekedar makan aja juga gak apa-apa bu. Saya bisa kok cuci-cuci piring. Ya Bu? Saya mohon,” kata gue sambil memelas. Pusing, gimana cara supaya dapat kerjaan di hari itu juga.
                “Ya Allah si eneng belum makan? Makan dulu ya, Neng,” kata si ibu sambil meluk gue. Kayaknya si ibu sedih liat pakaikan gue yang dekil dan kotor.
Gak beberapa lama kemudian si ibu buatin gue satu porsi pecel dan nasinya yang seabrek. Matek! Gak sampai 1 jam lalu gue makan dan perut gue sebenernya udah overload. Tapi gue sendiri jadi gak enak sama si ibu kalau gak dimakan, padahal beliau sudah berbaik hati buatin gue makan.   
“Neng, gimana ya, bukan ibu gak mau kasih kerjaan ke kamu neng. Ibu takut gak bisa bayar kamu,” kata Si Ibu dikala gue berusaha abisin pecel yang dia buat.
Yah ini mah gue gagal lagi nyari kerja namanya. Gue harus gimana ini? Warung kaki lima mana lagi yang harus gue jejali? Ya Tuan, tolong saya. L
“Bu, kenapa bu?” tanya seorang pelanggan yang makan di samping gue.
“Ini si eneng jauh-jauh dari Pamulang cari kerjaan di sini. Tapi si ibu mah gak punya, takut gak bisa bayar si eneng,”
“Wah, namanya kamu siapa?” tanya pelanggan tersebut ke gue.
“Hani, Kak!” jawan gue singkat.
“Oke, Hani. Saya Indah. Kamu bisa masak gak? Bisa cuci piring? Bisa ngepel sama nyapu gak?” tanya Kak Indah memperkenalkan diri sambil bertanya panjang lebar.
“Bisa kak,” kata gue asal. Ya Allah gusti, paling masak air gue lancar. Hahaha.
“Ih, kalau gitu kamu mau gak jadi pembantu di rumah tante aku?” Tanya Kak Indah lagi.
Mati! Gue jadi pembantu coy. Bisa gak ya gue? Kok ya idup susah-susah banget ya?
“Tuh, Neng ibu setuju. Daripada neng susah-susah cari kerjaan lain. Neng Indah mah ketauan pelanggan ibu, jadi kamu gak akan ditipu-tipu,” jawab si Ibu menyakini gue. Tau aja si ibu, gue lagi takut ditipu sama orang yang gak gue kenal.
“Iya, boleh deh,” jawab gue pasrah. Paling  baru 1 minggu gue udah dirajam karena gak bisa apa-apa.    
“Yaudah, besok jam 8 pagi kamu ke sini lagi ya. Nanti saya kenalin ke tante saya. Gimana bisa gak?”
“Boleh deh,” kata gue masih dengan muka melas berusaha meyakinkan kalau gue emang butuh pekerjaan untuk nyambung hidup.
Gak berapa lama Kak Indah pulang dan gue selesai makan dengan perut buncit karena kekenyangan. Gue sempat nyuci piring dulu. Semua piring kotor tepatnya, sebagai rasa syukur gue karena gue udah dikasih makan siang gratisan. Ternyata cari pekerjaan tak sesulit yang gue bayangkan.



Hasil gambar untuk jalan muncul serpong

 Itu kejadian realita yang harus gue alami 11 tahun yang lalu. Tepatnya diakhir tahun 2016. Kejadian itu kembali gue kenang karena kemarin gue melewati Jalan Raya Muncul-Serpong yang sudah lama gak pernah lewati. Jalan itu penuh dengan banyak kenangan. Tentang sekolah di SMA, Ketemu kakak kelas yang gue taksir atau sekadar bertemu tukang angkot yang naksir berat sama gue. Di situ juga pertama kali cari kerjaan dan menipu si ibu pecel yang baik hati.
Yap, betul itu pertama kalinya gue cari pekerjaan sendiri karena sedang mengikuti diklat teater. Dari beberapa peran mulai dari orang gila sampai jadi pengamen, gue malah dapat peran anak miskin yang cari kerjaan untuk bertahan hidup. Sayangnya badan gue gak menyakinkan untuk semua hal itu karena gue gendut. Haha.

Gue jadi mikir apa bedanya gue yang sekarang dengan di tahun 2006? Gue sama-sama pengangguran sekarang bahkan udah gak sekolah lagi. Apa gue harus cari pekerjaan kayak jaman dulu lagi? Kebetulan si ibu pedagang pecel itu masih berdiri tegar berjualan di tempat yang sana. Semoga beberapa hari ke depan gue berhasil cari kerja dan tanpa tipu-tipu lagi. Amin. J    

08/01/17

Dan Tuhan Maha menutupi Aib



Tulisan ini berasal dari percakapan saya dengan beberapa orang dengan segala kebodohan-kebodohan saya selama ini. Ada kebodohan yang tak mampu saya ucapkan dan saya rangkai bahkan hanya dalam sebuah kalimat. Kebodohan ini kerap menghantui saya, merasa saya orang yang paling berdosa, membuat saya merasa sangat amat jauh dari Tuhan, dan merasa jutaan taubat tak akan mampu Tuhan terima.   
Kebodohan ini tak ayalnya menciptakan dinding pembatas yang tinggi antara saya dan Tuhan. Kebodohan ini membuat saya kadang  malu untuk bertegur sapa dengan Tuhan. Hingga saya sadar saya tak boleh terus terlarut dalam kenangan-kenangan bodoh saat itu, hingga saya sadar menjauh dari Tuhan akan membuat saya hancur.
Dan pada akhirnya saya temui beberapa teman yang saya kira paham dan fasih tentang Tuhan dengan rasa malu saya tanyakan sedikit demi sedikit tentang ketenangan yang mungkin sudah saya lupakan.
 Tak ayalnya tangis saya pecah, ketika salah satu dari mereka berkata, “Ketenangan seperti apa lagi? Kamu kan rajin puasa, Han.”
Ya Tuhan, sebegitu putihkan diri saya di mata teman saya itu? Setelah banyak noda yang tetes kan dalam  diri saya. Sebegitu putihkan Tuhan telah menyembunyikan aib saya? Lalu mengapa saya dengan bodohnya terus menerus meneteskan noda tanpa celah di dalam diri saya, sementara Tuhan sibuk menutupinya? Mengapa saya menjauh menciptakan dinding pembatas, ketika Tuhan sedang berusaha menutupi aib saya?
                Percakapan itu saya ceritakan pula dengan 1 teman yang sungguh saya percaya, sebut saja beliau M. Kepada M juga saya ceritakan kebodohan-kebodohan yang telah saya lakukan.
 M berkata memeluk saya erat, “Han, Tuhan Maha bijaksana. Itu tandanya Tuhan sayang sama kamu. Itu tandanya Tuhan melindungimu. Itu tandanya Tuhan ingin memelukmu dalam Taubatmu. Dan tentang kebodohan yang kamu lakukan cukup Tuhan yang maha mengetahui. Jangan kamu ceritakan lagi ke orang lain. Cukup gue yang tau Han. Dan gue tau kamu menceritakan kan kebodohan itu ke gue bukan karena kamu ingin gue tau kebodohan lo, tapi karena kamu tidak tau harus meluapkan rasa sakitmu. Jagadiri baik-baik ya cantik. Banyakin istigfar, ” lagi-lagi air mata saya jatuh. Melihat begitu bijaknya  M menanggapi kebodohan saya.

Tuhan maafkan kebodohan-kebodohan saya, terlebih dengan menceritakan kebodohan saya pada orang lain, sedang Tuhan menjaganya dengan sebegitu rapat. Tuhan tolong peluk saya sejenak. 

07/11/16

Bermain IPS Kreatif

Tahun ajaran baru ini saya menjadi guru IPS. Hal ini merupakan tantangan yang baru, terlebih sudah hampir 9 tahun saya vakum mengenyam pelajaran IPS. Menjadi guru IPS sd tentunya tak sesulit menjadi guru IPS tingkat lanjut. Namun, anak-anak di bawah umur 10 tahun acap kali lebih senang bermain dan mengobrol dengan temannya dibandingkan mencatat.

inilah kami siswa kelas 5
Murid-murid di sekolah penempatan saya, tidak ada yang mempunyai buku cetak. Mereka semua adalah hasil buah langsung dari didikan guru yang bertanggung jawab membimbingnya. Kedepanya mereka akan menjadi apa semua tentunya sangat bergantung pada guru di sekolah. Hal ini lah terkadang menimbulkan rasa takut yang mendalam bagi saya, bagaimana jika didikan saya salah dan mereka terjerumus dalam laut kebodohan? Akan diadili apa saya dihari perhitungan nanti?
Pelajaran IPS menjadi hal yang tidak disukai murid-murid karena tak kalah menjenuhkannya dengan catatan IPA. 
“Akh, ibu….. Catatan lagi? Buku catatan ami lah mau habis bu,”
“Bu, hari ini catatannya ndesah benyok nuee ye…”

Caca yang ngambek karena merasa tidak bisa melakukan role play
Dan masih banyak lagi pernyataan-pernyataan dari murid-murid ketika saya masuk. Untuk menghilangkan kejenuhan di kelas lima, saya mencoba mengadakan role play sederhana dari jenis-jenis kegiatan ekonomi. Murid-murid mendapatan peran sesuai dengan keras sesuai dengan kertas undian yang mereka ambil.  Murid-murid juga harus membuat alat peraga dari kertas Koran yang disediakan. Ada yang senang dan langsung berhayal tentang apa saja yang akan dibuat, ada yang malah kebingungan dan malas untuk melakukan role play. Pastinya hal ini membuat saya tak berhenti-berhenti tertawa.

Hikmah sedang menata dagangan baksonya
Junai dan Hikmah sedang memperagakan menjadi pekerja di industri kain dan tukang bakso ikan

Diki yang sedang asik Membuat topi petani


Junai memakai baju yang dibuatnya sambil membuat benang dari koran
Ada yang berperan sebagai penjual bakso, sebagai pedagang sayur, pencukur rambut, guru, petani, pekebun ubi, penambang logam mulia, pekerja sagu butir, dan pembuat baju, dokter dan nelayan. Ke sebelas pkerjaaan tersebut harus ditebak oleh masing-masing kelompok masuk kedalam kegiatan ekonomi apa saja, mulai dari agraris, ekstraktif, pedagang, industry dan jasa. Mereka mulai bekarya mulai dari membuat cangkul, daung singkong, bakso ikan hingga sagu butir yang kecil-kecil. Di sini sebenarnya jelas bukan hanya mereka yang belajar tapi juga saya yang belajar untuk berusaha paham dengan mereka, mereka pun lebih paham dengan pelajaran yang telah mereka pelajari.


  





Agil sibuk menggunakan alat peraga yang dibuat Junai



 keterangan :
ami lah : kami sudah
ndesah benyok nuee ye: tidak usah banyak betul ya

27/10/16

Kakak-Kakak Berbaju Putih

Kakak-kakak berbaju putih datang ke sekolah dengan sebuah motor. Ini tentu bukan kawanan TNI yang sedari bebera minggu lalu berdatangan dari penjuru arah menuju desa. Kakak-kakak itu kemudian menghampiri dan menunjukkan keperluannya melalu sebuah surat kepada Pak Di. Entah apa yang pasti Pak Iwan menemani kakak-kakak berbaju putih itu menuju ruang kelas satu.
Kakak-Kakak Berbaju Putih
Anak-anak kelas satu melihat kakak-kakak berbaju putih itu dengan penuh tanda tanya. Beberapa anak dari kelas atas yang sedang istirahat lari tunggang-langgang melihat kakak-kakak berbaju putih. Beberapa dari mereka juga berbisik-bisik menceritakan pengalamannya saat bertemu dengan kakak berbaju putih. Pengalaman yang tak kalah seramnya ketika bertemu dengan kuntil anak atau hantu banyu.

                “Bu, anak kelas 4 ndesek suntek kan bu?”
                “Bu, ami ndesek suntek kan bu?” tanya anak kelas tiga mengerubuni saya.
Hmm, saya akhirnya tau kakak berbaju putih itu datang untuk melakukan imunisasi suntuk campak dan TBC. Pak Iwan selaku wali kelas tiga menenangkan bahwa anak kelas tiga tidak akan disuntik. Seingat saya dulu saya disuntuk hingga kelas tiga SD, entahlah.




Pak Iwan yang Berusaha Menenangkan



                “Bu, Siska takut disuntek bu. Ami ndek nak!” ucap Siska murid kelas tiga ketakutan. Meskipun ketakutan Siska tetap saja mengikuti kakak-kakak berbaju putih itu mulai dari kelas satu lalu ke kelas dua. Siska mengintip dari luar jendela kelas.
Siska yang sedang di bujuk
                Ketakutan mulai meraja-lela ketika ternyata kakak-kakak berbaju putih ini pergi dari ruang kelas dua menuju ruang kelas tiga. Siska menjerit-jerit ketakutan tapi tetap saja masuk ke dalam ruang kelas  karena disuruh Pak Iwan. Murid-murid kelas tiga di panggil satu persatu. Ekspresi mereka berbeda-beda ada yang terlihat  kuat, ada yang ketakutan, ada yang malah ketawa-ketawa bahagia tidak disuntuk kerena usianya sudah di atas 10 tahun. Hanya satu yang sama yaitu wajah setelah disuntik. Lemas, pucat pasi, tak banyak bicara dan tangan kanan memegang tangan kiri. Persis seperti kelinci percobaannya yang awalnya loncat-loncat gelisah karena akan jadikan bahan percobaan namun setelah disuntik akan menjadi lebih pendiam.

Suana Pias di kelas tiga

Melihat murid-murid lemas saya tidak tinggal dia. setidaknya saya harus memberikan semangat pada mereka. Saya berpikir sejenak hingga akhinya saya memilih untuk bertepuk tangan pada murid yang telah disuntik.
Tata yang Bahagia Tidak disuntik

                “Bisou, nde?” tanya saya pada murid kelas satu.
                “Nde, bu!”
                “Tos, dulu kalau begitu..!” ucap saya mengeluarkan kelima jari tangan kanan saya.
Murid-murid yang tadinya bermuka lemas mulai bisa tersenyum, membalas tangan saya, meski saya tau mereka masih menahan sakit. Eva murid kelas dua mendatangi saya yang sedari tadi menghampiri murid-murid yang telah di suntik.
                “Hai Eva. Bahal nangis kondo?”
                “Bisou bu,”

              “Sikit je. Tos dulu sama ibu biar nde bisou,” saya tersenyum sambil sekali lagi mengeluarkan ke lima jari tangan kanan saya. “Eva nde boleh sedih lagi. Eva nak jadi dokter kan? bahal nak suntek anak-anak nanti?”         


Kosa kata: 
ndesek suntek : tidak di suntik
ami : kami atau biasanya di sini berarti saya.
Bisou, nde : sakit ga?
Nde : tidak
Bahal nangis kondo : kenapa menangis seperti itu?
Bisou : bisa
Sikit je : sedikit aja
 nak : mau

Hai Kamu yang 24 Tahun~

Hei, Kamu yang berusia 24 Tahun. Saya adalah kamu di usia ke -25. Saya juga belum ada pengalaman apa-apa sih tentang usia yang ke – 25, maklum baru beberapa hari. :P Tapi saya tau kok, kamu, atau pun kamu di usia yang sebelum-sebelumnya punya angan-angan lucu, nikah sama orang Aceh dan tinggal di Kalimantan. Hahaha. Di usia ini entah lah, saya rasa sudah tidak ada lagi harapan gila itu.
Di usia ini, saya ibaratnya lagi panen hasil amalan kamu. Entah itu amalan baik atau amalan burukmu. Kamu tau di usiamu ini, adalah masa-masa kejayaan meski sebagian adalah masa suram. Semua keinginan-keinginanmu terkabul, bahkan yang belum kamu inginkan pun Tuhan beri. Ya, itu tentang seseorang yang berniat menjadi pendamping hidupmu, meski tau saat itu kamu divonis TBC.
 Sayangnya di usiamu ini kamu menjadi sangat riya merasa memiliki segalanya. Kamu lupa semua hanya titipan Tuhan. Sampai kamu melakukan hal bodoh yang menyesatkan jalanmu. Memberi luka yang cukup dalam hingga helaan nafas saya malam ini. Lalu siapa lagi yang harus saya salahkan? Kamu kah? Dia kah? Atau Tuhan?
Maaf-maaf saya menulis ini bukan ingin menyalahkan kelakuanmu. Saya hanya merasa tidak sanggup saat ini. Tapi saya juga mau berterima kasih, jika tidak ada kamu, saya tak akan mengenal yang namanya tersesat dan pulang. Ya di sini lah saya ingin pulang. Melepas segalanya.
Mungkin kah bisa? Mungkin kah sanggup? Jika surat ini sampai padamu rasanya saya ingin bilang, pulang lah sebelum tersesat! Tersesat itu menyakitkan, menimbulkan trauma yang tak terlupakan. Dan yang pasti membuatmu merasa orang paling munafik sedunia. Sudah siap kah kamu untuk pulang? Pertanyaan ini kerap saya tanyakan pada diri saya akhir-akhir ini. Pulang bisa berarti melepas segala yang saya punya harta, jabatan, cinta, nafas, jiwa. Sanggup kah saya? jujur tidak! Tapi bukan kah semua hanya titipan Tuhan?
Hei, hari ini saya belajar untuk mencintai Tuhan, merindukannya, menyanginya. Bukan kah selama ini itu yang kamu cari? Namun kamu enggan untuk memulainya. Hingga akhirnya hijab hanya sebagai pemanis selama 5 tahun ini. Ingatkah janjimu 4 Tahun lalu saat mengenakan hijab dengan tujuan memperbaiki diri? Jadi jangan lah kamu tersesat. Jika kamu merasa tersesat segera lepaskan, agar kamu tak lebih tersesat.
Saya percaya kamu gadis tangguh. Hingga pada akhirnya kamu berani melepaskan saat sudah tersesat meski dalam hati tak sanggup. Semoga kamu dan saya bisa berpulang, semoga Tuhan memaafkan kita. Itu doa yang terus saya minta akhir-akhir ini, semoga Tuhan meridoi kepulangan saya kali ini. Semoga saya tak harus tersesat lagi dan merasakan luka yang sama.
Terima kasih sudah memberi banyak pelajaran di tahun lalu untuk saya ambil hikmahnya di usia ini. J