27/09/16

Mencari Penggerak Lokal

Namanya Muttaqien. Beliau akrab disapa dengan Bang Mut. Salah seorang penggamanya Muttaqien. Beliau akrab disapa dengan Bang Mut. Salah seorang penggerak lokal Natuna, yang sempat menjadi aktivis kampus saat berkuliah di UGM. Perkenalan saya dengannya bermula dari nomor beliau yang dikirim oleh teman saya melalui jejaring sosial whats app. Teman saya berkenalan dengan beliau di kapal Bukit Raya dalam perjalanannya menuju Subi dan Serasan. Dari teman, saya mengenal bahwa Bang Mut memiliki taman bacaaan sederhana bernama Pena Senja di pusat kota.


Beberapa minggu setelah itu saya benar-bener bertemu dengannya di rumah baca Pena Senja, bersama beberapa teman saya, yang kebetulan sedang berkumpul di Kota. Saya menemukan beberapa novel anak muda, novel sejarah, politik bahkan tentang buku-buku haluan kiri yang saat ini sudah jarang di pajang di toko buku. Pena Senja, menjadi nyawa sendiri bagi saya yang senang membaca. Terlebih tak kunjung juga, saat itu saya temukan toko buku di pusat ibu kota kabupaten ini. Tak ada pemikiran lebih tentang Bang Mut setelah berkunjung ke Pena Senja.


Waktu terus bergulir, di lain kesempatan saya mendapat kabar beliau akan memboyong gadis Yogyakarta untuk menjadi pelabuhan hatinya. Tak lama setelah itu saya dan beliau diperkenankan Tuhan untuk berkenalan lebih jauh dalam sebuah kepanitiaan. Dari sana saya banyak tau tentang beliau dengan kesibukan yang tiada habisnya. Tak jarang, beliau tak hadir dalam rapat kepanitiaan karena sedang sibuk. Dari kepanitiaan itu pula saya tau bagaimana beliau memandang dan berpikir tentang pola hidup.


Di beberapa waktu setelah lebaran Idul Fitri saya cukup dicengangkan dengan pemikiran beliau tentang cinta yang hakiki sesungguhnya. Belum selesai sampai di situ saya kembali disihir oleh pemikiran beliau tentang bazar murah. Tepukan tangan secara terus-menerus rasanya ingin saya berikan kepada belian.
Berawal dari sisa dana kegiatan Festival Anak Natuna yang cukup besar untuk sekedar dihabiskan untuk berfoya-foya. Beberapa ide muncul dari beberapa panitia untuk menghabiskan sisa dana tersebut mulai dari sisa dana yang dibagikan kepada panitia yang aktif, disumbangkan ke panti asuhan atau mengadakan acara dangdutan sebagai acara perpisahan.


 Tercetus ide dari Bang Mut untuk mengadakan bazar murah, dimana sisa dana kegiatan Festival Anak Natuna dapat dibelikan barang pokok yang akan dijual kembali dengan harga murah. Menurut beliau dari sana kami sebagai panitia dapat sekaligus berdonasi dan tetap mendapatkan hasil jerih payah selama mengikuti panitia. Saya sangat salut dengan pemikiran beliau satu ini, karena bazar sudah lama tidak pernah diadakan beberapa tahun ini di Kabupaten Natuna. selain itu usaha mengadakan bazar murah juga sebagai sarana membuka lapangan usaha bagi masyarakat Natuna yang juga ingin menjualkan barang dagangannya. Semoga dalam waktu dekat ini ide-ide hebat ini dapat dilaksanakan dan dapat berlangsung dengan baik.


Ah, ada baiknya sebelum saya pulang, saya menemukan pemuda-pemuda lain seperti Bang Mut di Natuna ini. Agar saya tidak dengan berat hati untuk meninggalkan tempat yang hampir satu tahun ini saya tempati. Oh, lebih baik lagi jika dimana pun saya berada nanti, saya akan menemukan orang-orang seperti Bang Mut ini. Orang-orang yang dapat menjadi penggerak kehidupan bangsa.  Semangat menemukan, Han!
kan, Han!

04/09/16

Tips N Triks Move On Elegan ala Bundadari





Pernah putus cinta? Pernah patah hati? Pernah bertepuk sebelah tangan? Pernah dicampakan? Pernah dong pastinya ya? Nah, kali ini setelah gue lama banget gak ngeluarin tips n trik, gue bakal membagi tips n trip yang efektif buat kalian move on dengan elegan.

1.  Cepat Cari Pengganti si Dia
Eits, tapi harus hati-hati, jangan sampai kalian terlihat murahan. Ingat! Gengsi tinggi adalah harga mati. :P  Tips ini akan efektif dan kalian akan terlihat bergengsi kalau case-nya kalian dicampakkan dan si mantan udah punya pacar baru.
Tapi kalau case-nya karena adanya perbedan visi-misi *caelah, macem organisasi gitu ya ada visi misi?* Jangan sampe deh kalian buru-buru cari pengganti. Apalagi kalau kalian masih sama-sama saling sayang. Nanti ada juga kalian disangka selingkuh, murahan dan perbedaan visi-misi itu hanya alasan kelasik yang kalian buat-buat.

2.  Blokir dan  Ganti Semua Nomor Kontak si Dia
Ini nih tips yang paling cepet buat move on. Cepet banget! Tapi dengan tips ini kalian bakal ngerasain sakit luar dalam. Hahaha. Rasain! :P
 Tapi kalau ngikutin tips ini menurut gue, kekanak-anakan sih. Yang sudah sih sudah, gak perlu blokir kan? Toh dulunya sebelum putus atau sebelum patah hati juga kalian temenan kan? Terus kenapa harus putus hubungan dengan memutuskan segala media komunikasi?
 Sudah harfiahnya kok, ketika kalian  move on kalian akan mengurangi intensitas komunikasi.
Dari sini kalian juga akan belajar untuk saling mengahargai kebersamaan.


3.  Pretending that, everything its gonna be okay.
a.       Masih berkomunikasi dengan si Dia
Cara gampang sih ya emang gitu. Pura-pura gak tau kalau kalian udah pisah. Tengsin, sih. Tapi kenapa enggak, toh si dia juga udah tau sifat kalian yang kayak gitu kan? kalian juga bakal tau sifat si dia yang sebenernya seperti apa.

b.      Ganti nama sahabatmu dengan nama si dia.
Kalau kalian gak mau ketauan nge-galau di depan si dia, pengen terlihat tegar dan kuat di depan si dia, kalian harus ngelakuin hal ini. Kalian harus kerjasama dulu dengan sahabat lo, bahwa dalam rentang waktu tertentu kalian akan memposisikan sahabat kalian sebagai si mantan. Mulai dari account sosmed sampe phonebook sahabat kaliam, ganti semua dengan nama si dia.
Trust me, its work!
Segala kegalauan kalian, segala rasa rindu, ke si Dia  pindahan ke sahabat kalian.
Dalam waktu 3 hari paling kalian langsung illfeel. Bhahahaha. Paling gak sahabat kalian yang bakal ngomel-ngomel karena kalian mulai annoying. :P
Gampang kan? Jadi kalian gak keliatan lemah di depan si dia. Dan kalian bakal keliatan keren karena bisa move on cepat. :P *padahal mah galau akut*
”Gak apa-apa, sing penting galaunya harus elegan,” (Anindita, 2016)


4. Banyak Cerita Sama Tuhan
Kalau di tips ke 3 A lo gak punya sahabat. Tenang aja. Masih ada sesuatu yang akan dan selalu dengerin kalian. Tuhan. Mau kalian se-cuek apa pun sama beliau, saat kalian butuh belian selalu ada. J

Hasil gambar untuk berdoa pada allah

Selain kalian  bisa refleksi diri, kalian juga bisa nenangin hati kalian. Terus minta tenangin hati kalian supaya gak galau. J



5.   Perbanyak Kegiatan
Klise sih, tapi ini bener banget. Semakin kalian sibuk, semakin kalian sadar kalau masih banyak orang yang perhatian samakalian dan masih banyak juga orang yang perlu kalian perhatiin.
 

Sekian tips n trik move on yang elegan dari bundadari. Kalian juga bisa kok, mengkombinasi tips-tips ini secara bersamaan biar lebih cepat move on. :P


"Pada akhirnya hanya waktu yang akan melompati cinta, dan hanya cinta pula yang bisa melompati waktu" kutipan film apa gitu gue lupa.

21/08/16

Mata Kucing








Hola, apa kabar? Kalian pasti mikir deh ini anak kenapa sih satu dari tadi ngeposting blog terus? Bukan, ini byukan karena gue mau sok pamer sumpah! Gue nulisnya di hari yang berbeda-beda, tapi apa daya di desa gue gak ada sinyal internet. *sinyal telepon aja kudu gantung hp dulu di jendela rumah atau kalau mau full kudu cari-cari dulu sinyal di pantai sambil merelakan badan digigitin agas. :(

Oke gak seperti cerita sebelumnya tentang buah yang gue review, iya kalau kemarin sih emang guenya aja yang bego. Hahaha. Kali ini gue beneran mau me-review buah yang belum pernah gue makan seumur-umur hidup gue. Gue tau itu buah aja dari tangan anak murid gue yang ketika itu sadar dengan muka  yang mupeng dan kepo. Buah itu bernama mata kucing. Tiba-tiba pikiran gue melayang pada minuman khas Negara tentangga *Singapore atau Malaysia ya?* itu loh air mata kucing. Percaya lah itu gak ada hubungannya sama sekali. :P 

Oke gue akan berusaha mendeskripsikan berdasarkan indera pengelihatan, peraba dan pengecah gue. Caelah, gue sok-sokan bahas seperti asisten dosen teknologi sensori pangan. *masalah  mantan asdos aja gak bisa move on apalagi masalah hati?* #eaaa * gue nangis dipojokan* *oke lupakan, gue emang lebai* :P 
 
                Bentuk buah mata kucing ini kecil-kecil. Kalau dilihat secara dekat buah ini sekilas buah kelengkeng. Batangnya yang tipis, kulit buah kuning keemasan dan memiliki alur berbulir-bulir kecoklatan. Kulitnya juga setipis buah kelengkeng Semuanya persis! Bedanya buah ini memiliki anak bunga pada setiap buahnya. 
Anak Bunga
                Gue yang kepo dengan rasanya kemudian berusaha membuka buah ini. Buah ini cukup sulit dibuka, bukan karena kulit buah tebal mungkin karena buahnya yang berukuran kecil. Sekarang gue memperkirakan kenapa anak-anak menyebutnya mata kucing. Daging buahnya tipis bewarna putih transparan dengan bijinya yang terlihat jelas, persis seperti mata anak kucing. 


Setelah gue sibuk menilai dari indera pengelihatah dan indera peraba, kali ini gue akan mencoba mendefinisikan dengan indera perasa gue. Rasa buah ini manis, lembut, juicy, mirip buah kelengkeng. Lebih mirip dengan rasa buah matoa. Secara keseluruhan gue bisa menyamakan buah ini dengan kuaci. Kenapa kuaci? Ya karena buah ini enak buat dimakan tapi sulit untuk dimakan. Butuh perjuangan untuk membukanya yang isinya hanya secuil. Hahaha :P 

Demikan lah hasil review gue yang absurd itu. :P

Berburu Rambutan Sepuluh Ribu





Ini cerita tentang kepulangan gue ke rumah ke tiga. Iya, Natuna. sebenarnya masih belum ingin kembali ke sini. Bukan, bukan karena gue gak suka dengan keadaan di sini. Cuma… Cuma… ya 12 hari kembali ke tempat-tempat di masa lalu, bertemu dengan orang tersayang, berbagi mimpi yang dulu pernah digoreskan bersama, rasanya belum cukup untuk kembali menyendiri. Bukan pula karena di Natuna gue gak punya teman, tapi apa ya? Kadang kala gue merasa asing dengan bahasa daerah di ini. Gue seolah gak bisa menjadi diri sendiri menggunakan bahasa sehari-hari gue. Contohnya mana pernah gue mengucapkan kata “gue” di sini. *ups, ini kenapa gue jadi curhat ya?* bhahaha
Oke, lanjut cerita kembali ke Natuna, gue disambut mbok-mbok jamu bernama jeng Fenty *tiba-tiba dimutilasi sama fenty* :P Fenty ini adalah salah satu pengajar muda yang ditempatkan di Natuna *Cie, Fenty eksis di blog gue, cie* :P Selain disambut turis jepang ini, gue juga disambut oleh aroma durian di sepanjang jalan pulang, dan mata  gue disuguhkan pemandangan menggelantung buah manggis, rambutan dan beberapa buah tropis lainnya. Ternyata kepulangan saya kali ini ke Natuna memasuki musim buah yang cukup melimpah. Setelah selama hampir 8 bulan gue hanya dapat menelan buah pisang dan semangka. Kali ini banyak buah yang dapat gue makan. Iyey! Rezeki anak solehah! :D tau aja, gue ini emang pecinta buah-buahan. Pecinta kamu juga kok. Iya, kamu yang masih niat baca tulisan aku. #eaaaa
Baru sehari kembali gue udah rindu untuk mengajar *Cih, gue lagi pencitraan abis cuti 12 hari*, sayangnya hari Jumat kala itu digunakan untuk latihan persiapan jamboree Hut ke-55 pramuka. *padahal gue seneng karena belum buat RPP :P* di sekolah anak murid membawakan rambutan untuk guru-guru. Rambutan ini punya Sela ternyata. Salah satu murid kesayangan gue di kelas 5. Anaknya cantik tapi hobinya merengut kalau sudah disuguhkan pelajaran matematika. Alhamdulillahnya doi selalu dapat nilai bagus di pelajaran matematika. Hehehe.
Singkat cerita Kak Dev *host fam gue* ngajakin gue selepas solat jumat untuk beli rambutan ke rumah Sela. Tak tanggung-tanggung gue diiming-imingi harga sekilo rambutan Cuma 10 ribu, siapa juga yang gak ingin. Sekitar jam dua siang gue dan Kak Dev sampai di rumah Sela, kami disuruh duduk di teras rumah oleh ayah Sela. Cukup lama menunggu, kami sambil bercerita tentang Sela di sekolah hingga tentang panen rambutan yang kali ini tidak begitu bagus karena banyak yang busuk.
Giliran gue yang syok ketika digiring ke kebun Rambutan oleh kakaknya Sela. Ternyata rambutannya dipetik sendiri-diri sudara-saudara! Eit, tapi ini pengalaman yang cukup menarik. Gue seolah mengulang masa kecil gue di kebun belakang rumah datuk dan oma. Rumah yang sekarang sudah dijual dan dijadikan rumah makan. Tidak seperti di rumah datuk dan oma dulu, pohong rambutan milik Sela ini cukup banyak dan pohonnnya kecil-kecil, sehingga cukup mudah untuk di petik langsung, atau dipanjat. Ah, sungguh mengingatkan masa lalu gue yang suka manjat. Hahaha.
Awalnya masih berusaha memakai galah, lama-lama kewalahan untuk mendapatkan yang merah-merah, dengan modal nekat Kak Dev manjat pohon. Padahal doi pakai baju kurung long dress.  Gue sekarang telah menjadi bundadari ayu nan lemah gemulai, tentunya hanya duduk bersimpuh mengambil rambutan yang telah jatuh sehabis dipetik Kak Dev. *Percayalah, ini beneran kebon jadi gak mungkin gue bisa duduk berisimpuh. :P *
Di tengah gue asik memunguti, gue mendongak ke atas
 dan jengjeng…
Kejadian horror itu terjadi. Gue melihat surga dunia bagi para lelaki. Sayanganya gue bukan berjenis kelamin laki-laki dan pemandangan itu cukup membuat gue trauma. Lama gue mematung, menetralisir keadaan, memastikan apa yang sebenarnya gue lihat. *
 “Han, buah rambutan yang ini tolong dipetik dong!” Kak Dev, menjetik mengembalikan gue ke dunia nyata atas rasa trauma yang baru saja gue lihat.
“I-iya Kak! Sebentar..” ucap gue.
Ini pengalaman gue saat memetik rambutan di Natuna, kalau kamu? :P

Nasib si Raksasa





Oke kali ini gue mau curhat. Beneran ini mah curhat, kalau gak mau dibaca tolong di skip aja daripada bawaannya jadi benci sama gue. :P Tuh, kamu-kamu yang cepet mau move on dari gue baca tulisan ini aja. *Ini apa? Hani lagi pencitraan banyak yang naksir doi. Bentar lagi blog ini di set as spam nih sama orang-orang. bahahaha*
Jadi ini bermulai dari kepulangan gue ke Natuna. baru sampai sudah ditembak untuk ikutan lomba jalan sehat. Gue sih iya-iya aja gue pikir jalan sehat ya jalan aja. Titik. Tapi ternyata jalan santai plus baris-berbaris. Meski dari jaman gue SD sudah diajarkan saat pramuka, tetap aja gue paling tidak bisa baris-berbaris.
Sialnya lagi adalah gue berbadan tinggi besar macem raksasa. Jadilah gue selalu berada dibarisan terdepan yang artinya kalau gue melakukan kesalahan, matilah kau, Han! Gue ini gak bisa baris-berbaris catet ya saudara-saudara, tolong dicatat. Biar nanti suatu hari gak ada yang ngajakin lomba yang berbau baris-baris lagi. Bhahaha.
 Kesel kadang, dari jaman SMA sampai detik ini kalau ada lomba paskibra, gue pasti kena sebagai pelengkap padahal ikutan ekstrakulikuler paskibra aja engga. Tiap ada pemilihan ke kelas-kelas mencari pelengkap tim paskibra SMA, gue selalu sengaja membungkukan badan gue sebisa gue dan selama itu pula gue selalu kepilih. #Damn
Gue kadang suka meruntuki diri gue waktu kecil yang sempat bercita-cita ingin memiliki tinggi 200 Cm atau dengan kata lain 2 meter. Masih ada dalam memory gue, dulu gue suka pura-pura sakit hanya demi bisa nimbang tinggi badan di rumah sakit, sambil harap-harap cemas bisa bertambah 1-2 Cm. dan sekarang? Percayalah gue menyesal. L
Sebenarnya tinggi badan gue normal-normal saja untuk ukuran cewe luar negri. Tinggi gue hanya 167 Cm, kok! Normalkan? Tapi di Indonesia tinggi segitu sudah cukup bombastis. Pernah beberapa kali harus patah hati karena kecengan lebih pendek daripada gue, walau pada akhirnya gue sempat pacaran sama cowo yang tinggiinya hanya 156 Cm. :P
Kalau menurutmu menjadi orang tinggi itu mengasikkan tidak juga. Kamu bahkan selalu dimaki-maki orang kalau pake heels meskipun hanya 3Cm. Demi Tuhan, gue gak pernah membeda-bedakan orang berbadan pendek dan tinggi, gue bahkan sering gak sadar kebanyakan temen gue lebih pendek daripada gue.  Gue merasa tinggi gue sama dengan mereka. Sampai suatu hari ada seorang temen sekelompok gue saat pelatihan survival bilang gini..
 “Hani, ternyata tinggi juga ya, gue gak mau deket-deket hani ah, Gak keliatan!” *dwaaaar sakit bu, sumpah sakit* :P
Belum lagi dulu saat di kampus. Mata gue itu silidris jadi kalau baca tulisan jauh dan kecil ya keliatan goyang. Gue yang dulu demen belajar ya mau gak mau harus duduk di depan agar bisa mencatat. Sayangnya ada beberapa temen sekelas suka terhalang sama badan gue yang tinggi. Maaf ya, guys. Sumpah kalau bisa jadi pendek gue pengen jadi pendek. Percayalah~!
Kalau bisa gue pengen seperti cewe-cewe lainnya, yang tingginya sekitar 150-160 Cm, jadi gue gak usah merasakan diskriminasi. Gue bisa pake heels setinggi 7-10 Cm. Gue bisa jatuh cinta dengan normal tanpa harus mikir apa tuh cowo mau sama gue yang tinggi, gendut kayak raksasa ini. Gue bisa gak jadi pusat perhatian orang-orang. Kadang suka jengah ketika menjadi pusat perhatian. Bukan karena gue anggun memesona, tapi karena gue yang tinggi menjulang, gendut, item, jerawatan idup pula ganggu pemandangan orang-orang. L
Im so sorry, gue hanya merasa gak percaya diri dengan bentuk tubuh gue yang,,,, ya sudahlah..