24/09/13

untuk Orang yang Saya Sebut Orang Gila


Saya menulis ini tidak dalam maksud apa-apa.
Tulisan ini murni untuk mensyukuri garis hidup yang Tuhan berikan kepada saya.
Tulisan ini juga mungkin bisa jadi bahan koreksi saya ke depannya.

Bohong kalau saya bisa dengan mudah melupakan anda. Kehilangan adalah hal yang paling saya benci. Anda mungkin tidak hilang, bahkan kita masih saling bertemu, tapi sungguh saya benar-benar kehilangan sosok anda.

Sebelumnya saya minta maaf. Mungkin memang saya yang salah, entah lah…

Saya hanya merasa anda tiba-tiba pergi dengan berbagai alasan yang saat itu harus saya bisa terima.

Saya mengenal anda sebagai teman berbagi cerita, berbagi canda atas semua perilaku anda yang sering kekanak-kanakan.

Jika ditanya mengenai hati, saat itu saya hanya ingin anda berada di sisi saya. Itu saja. Entah, itu sebagai teman atau bukan.

Ada beberapa hal yang sangat sulit untuk saya lupakan mengenai anda. Padahal saat itu saya tahu itu hanya omong kosong belaka. “gue gak akan ngelupain lo kok paling ditinggal aja sebentar” dan “silahturahmi harus dijaga kali”. Hal itu yang membuat saya sulit untuk melepaskan anda.

Tapi melihat semua yang anda lakukan sekarang saya yakin pikiran saya yang dulu itu benar. Hanya sekedar basa-basi mungkin.

Mungkin saya yang salah, penasaran dengan prinsip anda yang tidak mau pacaran. Karena itu saya berusaha memancing anda untuk suka sama saya. Hahaha, ia saya mungkin sebenarnya yang gila. Maaf, untuk segala pikiran jahat saya waktu itu.

Maaf untuk semua bentuk pemaksaaan saya terhadap anda. Saya tidak tahu kalau itu akan membuat anda risih.

Beberapa orang yang tahu tentang cerita saya dan anda bilang kalau anda orang yang berengsek dan penuh dengan kedok. Semua orang bebas berkata. Yang tahu anda saat itu cuma saya. Dan saya bersyukur bisa sempat mengenal anda. Anda baik. Itu semua yang saya rasakan, saat dekat dengan anda.
Saya minta maaf kalau saya sedikit menghakimi anda. Setelah semua yang terjadi saya mungkin dapat dengan mudah menghakimi anda bukan orang yang dapat dipercaya.

Ketika anda tiba-tiba hilang, anda bilang, anda risih dengan saya. Risih karena terlalu dekat dengan saya. Entah kenapa anda harus risih, saya tak tahu, padahal kita hanya teman kan? sekarang anda bahkan sangat dekat dengan seorang gadis. Tidak risih kah anda dengannya? Atau anda sudah membuang jauh-jauh prinsip itu?

Anda bilang ingin menikah muda sambil kuliah di usia anda yang sekarang. Tapi bahkan anda belum melakukan progres apapun. Atau saya yang kini tidak tahu apa-apa?
Tapi saya bersyukur anda dekat dengan gadis itu dalam waktu singkat setelah anda menghilang dari saya. Bersyukur karena saat itu saya harus benar-benar melepas anda.  ;) karena prinsip saya, secinta apapun saya terhadap sesuatu, saat itu telah menjadi milik orang lain maka saya harus benar-benar melepasnya.
Alhamdulillah, saya melepas anda tanpa tangisan, tanpa penyesalan. :)

Dan saya benar-benar bersyukur, karena Tuhan menunjukkan satu persatu kekurangan anda dan pemikiran negatif saya pada anda.

Anda mungkin bisa bilang anda tidak pacaran tapi dekat dan pergi berdua kemana-mana bukan kah sama halnya dengan pacaran?

Setidaknya pemikiran saya selama ini benar kan? Setidaknya segala rasa penasaran saya selama ini terjawabkan? Anda ternyata hanya lelaki pada umumnya yang haus akan ‘cinta’…..

Maaf kalau saya salah men-judge anda.

Maaf kalau saya menyebut anda dengan sebutan ‘orang gila’ saya hanya tidak ingin masa lalu saya dan anda dulu diketahui banyak pihak.

Terakhir saya mau bilang terima kasih pada anda karena anda mampu mengajarkan saya banyak hal.  J terima kasih, karena jika anda tidak menjauh saat itu mungkin saat ini saya sedang menangis tersedu-sedu. Jika anda tidak menjauh saat itu pasti saya tidak akan sedekat ini dengan orang yang saya sayangi saat ini.


10/07/13

Adek Gue

allahuakbar.. allahuakbar...
adzan magrib berkumandang.
puasa hari 1

Nyokap : buka,yuk buka... han, kamu mau ditambah gula gak tehnya?
gue        : gak bu, nanti ambil sendiri.

si adek turun dari tangga lalu menuju meja makan. Mengambil teh manis.

Adek      : Bu aneh deh, aku gak laper, masa. Padahal lagi puasa.
Nyokap : Oh iya? Wah bagus deh.

Si adek kemudian ambil piring terus ngambil nasi di magig jar, mengambil habis soto ayam yang dibuat nyokap. Kemudian mengambil tempat duduk di meja makan sambil bilang, "Bu jatah Chiken nugget-nya berapa?"

Nyokap : Ya, seadanya aja lah.

Adek gue makan dengan Lahapnya. Gue kemudian iseng, duduk di samping adek gue sambil menikmati es kelapa muda. Melirik nakal ke arah adek gue.

Gue   : Bi tadi katanya gak laper?

Adek gue melirik ke arah gue. Kemudian menjawab dengan lempengnya, "oh iya, lupa,"



03/06/13

Kelas Menulis

Siang itu, gue melihat sebuah pengumuman yang tertempel di angkot gratis kampus. Judulnya cukup singkat, ”Creative class”. Iseng-iseng gue teliti lagi lebih dalam isi pengumuman tersebut. Di pengumuman itu ada tiga kelas yang kebetulan salah satunya ada kelas menulis. Kebetulannya lagi si pembicara adalah Mas Kuntawiaji atau sering disapa mas Aji, beliau ini temen gue di tumblr. Ahahaha, pede banget yee. Ya pokoknya gw nge-follow dia terus dia nge-follow gue deh di tumbrl. Tapi rasa-rasanya hubungan gue sama dia lebih sebagai fans ketimbang teman. :P
Karena gue pengen tau tentang dia, ya udah deh gue langsung daftar, lagian gue juga emang hobi nulis. Gue ajakin temen gue yangg juga kenal sama Mas Aji  di tumbrl, sayangnya tmen gue gak bisa ikut. Modal nekat gue daftar aja sendirian. Beneran sendirian gak ada abak FTIP satupun.
Oh iya, acara ini diadain sama anak Fapsi, AND YOU KNOW WHAT?! Gue pikir fapsi itu fakultas farmasi, taunya PSIKOLOGI. Dan gue udah dengan PD-Nya nanya ke CP-nya lewat sms:
“Farmasi gedung 2 itu yang mana ya? yang deket rektorat, deket pertanian atau deket kedokteran?”
“oh, fakultas psikologi gedung 2. Cari aja, gedung psikologi kecil kok. Jbalas si CP-nya.
                Damn! Gue malu abis. Jadi males daftar, tapi pengen. K Siangnya gue daftar deh di gedung 2 psikologi dengan tampang watados dan bertemu dengan CP-nya. Semua seolah berjalan lancar. Besoknya hari Sabtu gue dateng tepat waktu. Pas gue masuk ke kelasnya di samping ruangan ada “Mas Aji” ! Syok ngeliat wujud aslinya sedikit berbeda dengan foto di tumbrl. Yaiyalah!
                Gue buru-buru masuk ke kelas, takut tambah terkesima dengan Mas Aji. Hahah. Pas masuk ke kelas tempat duduknya udah rada penuh. Jadilah gue di belakang. Sumpah gue sedikit bingung sih. Soalnya gak ada yang gue kenal. Peserta lainnya rata-rata pada bawa teman, jadilah gue sendiri, menyepi di belakang.
                Beberapa saat setelah acara perkenalan tbia-tiba Mas Aji nya masuk ke kelas, sumpah beda jauh banget sama di tumbrl. Di sini lebih berisi badannya. Ahahaha. Pas dia menerangkan materi gue lebih tekesima berasa lagi diterangin sama dokter. Suaranya itu loh! Khas dokter banget. Ahahaha. *yaiyalah calon dokter*
                Secara singkat dijelaskan kalau menulis itu ada beberapa tahap yaitu prewriting, drafting, revising,proofreading dan publishing. Setelah dia menjelaskan materi tiba lah saat kita disuruh nulis. Jeng-jeng, gue rada bingung mau nulis apa. Lagi gak ada ide. Jadilah gue nulis ulang cerita yang pernah gue buat. Biasa, temanya cinta-cintaan. Ceritanya kebetulan rada twist, terus twist-nya juga sedih, jadi gak happy ending.
Ditengah lagi asik-asiknya nulis, tiba-tiba Mas Aji bilang,
 ”Setelah tahap revisi kan ada tahap proofreading, nah di tahap ini kalian harus tukeran tulisan sama temen di sebelasnya. Sebagai si pembaca….”
Gue stuck tiba-tiba! Sebelas gue siapa? Gak ada orang. Ada sih, habis setelah beberapa bangku kosong. Terus kebetulan sebelah gue cowok dan gue gak kenal. Gimana ini? Mana beliau nulisnya serius banget lagi. Terus Mas Aji beberapa kali bilang “jangan lupa dituker ya, ini penting loh!
                Pas waktunya di tuker, gue jadi bingung sendiri. Abis si mas-mas sebelah gue masih sibuk nulis! Gimana ini, gimana? Gue gak kenal? Gue harus gimana? Modal nekat akhirnya gue nyentuh punggung lengan kirinya. Dia nengok, gue cengok. -____-
                “Eh, mau tukeran tulisan gak? hehehe” sumpah gue malu!
                “Emm, boleh. Tapi saya belum selesai nulis. Saya baca punya kamu aja ya?”
                “Hehehe? Serius?” muka gue nyengir ketakutan.
                “Iya, gak apa-apa, sini!” ucap si mas-mas ini merebut kertas yang masih gue pegang. Mampus! Sumpah gue malu banget! Deg-degan banget berasa mau ngungkapin perasaan ke cowo yang ditaksir. #eh *malah melenceng*.
                “Maaf ya tulisannya jelek, banyak coretan lagi,” kata gue masih rada gak iklas tulisan gue dibaca mas-mas tak dikenal.
                “Iya, gak apa-apa, hahaha,” kata si mas-mas sambil tersenyum.
                1 menit, 2 menit, 4 menit. Si mas-mas ini mulai membalik halaman yang berarti udah mau selesai bacanya. HUA, GUE TAKUT BANGET! NGEDENGER RESPONNYA NANTI!
                Si mas-mas yang lagi tekun ngebaca tulisan gue tiba-tiba berpaling ke gue, menatap mata gue tajam.
Beberapa detik kemudia dia bilang, “Hmmm, Bagus…”
Gue cuma nyengir-nyengir gak jelas.
“Sedih ya?” tambvahnya.
“Hehe, hehe, iya,” MALU SUMPAH, GUE MALU! Topeng mana topeng?
“Paling yang kurang oke sama kalimat yang ini nih, kalau menurut saya…………” penjelasan dari si mas-mas ini mulai tak terdengar. Gue masih di dunia gue, sibuk nutup muka karena malu.
                “Tapi bagus kok,” ucap si mas-mas lagi menyadarkan gue dari lamunan.
                “Hehe, makasih ya. Eh, sini mau dibaca gak tulisannya?” tanya gue berusaha ganti topik.
                “Oke, lima menit lagi ya,”
                Setelah selesai nulis si mas-mas ini ngasih tulisannya ke gue. Setelah gue bacA paragraf pertama,tiba-tiba gue mau harakiri, mau mutilasi diri sendiri. Gue nulis cerita cinta-cintaan yang galau, beliau malah nulis tentang bola-bolaan! Pedang mana pedang?! Sumpah gue malu banget! Berasa gak ada harga diri. Hiks
                Selesai nulis dan dikumpulin, kita ngobrol sebentar. Biasalah pertanyaan basa-basi. “dari kampus mana” dll. Dari percakapan tersebut gue akhirnya tau beliau anak sastra jerman. Bodohnya setelah bercakap-cakap banyak kita gak saling tukeran nama tuh. Jadi dari awal percakapan gue ngomong ‘aku-kamu’ #tumben dan beliau ngomong ‘saya-kamu’. Ada bagusnya sih kita gak saling kenal nama jadi gue gak malu-malu banget lah! Untuk ke depannya mungkin gue harus menghindar dari lingkungan anak sastra, demi menutupi malu yang teramat dalam ini. *lebay*
               



30/05/13

Pacaran vs prinsip


Gw cumamau nulis, sori kalau rada sara, sumpah gak maksud apa-apa. :P

Menurut gue pribadi sih yang namanya pacaran itu g ada dilarang. Toh ya di dalam kitab agama yang gue anut pun gak ada satu kata pun yang menyatakan kalau pacaran itu dilarang. Silahkan coba di cek. Tapi…..

Sifat dan sikap yang kerap kali dilakukan saat pacaran itulah yang jelas-jelas ada hukumnya di kitab agama yang gue anut.

Nah sekarang tinggal balik ke diri masing-masing deh, sanggup gak pacaran tanpa melanggar norma agama yang ada?

Gue sendiri sih bukan orang yang anti pacaran, gue juga pernah kok pacaran, tapi kalau ditanya kenapa gue sekarang masih single ya mungkin karena prinsip gue.

Prinsip gue gak mau pacaran sama orang yang ngerokok. Jadi se-perfect apapun orang itu dimata gue pas tau dia ngerokok pasti bakal gue black-list jadi calon pacar gue. :P

 Itu adalah konsekuensi yang harus  gue ambil dari prinsip gue. Menurut gue, kalau orang punya prinsip harus dijaga baik-baik, jangan cuma omong doang. SAMA seharusnya sama orang yang punya PRINSIP GAK MAU PACARAN.

Kalau emang punya prinsip gak mau pacaran gak usah dong ngegalau, apalagi di jaringan sosial media, merasa plin-plan gak sih lo? Kan itu konsekuensi lo gak mau pacaran. Ya jadi jangan ngomong-ngomongin soal cinta-cintaan di sosmed saat lo belum siap nikah. Boleh sih, ya tapi diomongin sama Tuhan aja, gak usah diumbar-umbar ke orang.

Dan jangan kode-kodean berasa anak ababil aja. Anak kecil aja bisa dengan tegas ngomong ke gurunya. Kenapa lo gak bisa?

Terutama buat para cowo, kalau suka ya tinggal bilang, emang kalau bilang suka mesti kudu wajib jadian? Kan enggak, seenggaknya lo udah jujur sama perasaan lo.. jadi gak akan ngegalau deh di sosmed.

Menurut gue cowok yang mengungkapkan perasaannya dengan jujur ke orang yang dia suka itu keren. Lebih gentle lagi kalau langsung ngelamar nikah ke orang tuanya. J

Inti gue berkoar-koar gak jelas cuma satu, kalau lo GAK MAU PACARAN konsekuen lah dengan apa YANG JADI PRINSIP LO. Jangan ngegalau di sosmed. Malu ih..

*maaf tulisan ini memang sedang dalam rangka menyinyir.. jadi kalau berasa dinyinyir maaf-maaf aja ya… :P*




13/04/13

My Name is Rain




Ini ceritanya gue lagi gak ada kerjaan aja, jadi serius nulis-nulis. Yah, biasalah kerjaan anak semester akhir itu cuma satu, menulis. Menulis  cerpen lah, menulis novel lah, menulis kisah nyata lah *read: curhatan* siapa tau kalau lagi beruntung bisa sekalian menulis skripsi sampe lembar lampiran. *tsah, mulai penyakit galau skripsi sebentar lagi on*
Lupakan tentang skripsi, ceritanya gue lagi mau sharing tentang kisah nyata gue. Iye,iye gue ngaku gue mau CURHAT.  Apa? Gak suka? Yaudah jangan dibaca. Tinggal pencet tombol close aja di atas. Eh, tapi beneran gak mau dibaca? Ceritanya bagus loh. *Mulai ngemis, ngemis pengen dibaca, sambil masang aksi mata setan, salah deh mata kucing yang imut-imut jabang bayi*
Kalau dari judul lo udang pada tau kan gue mau cerita tentang apa? *Pengunjung blog semakin sepi* Jadi gue mau cerita tentang nama panggilan gue selama 21 tahun ini. *Sedih ya kalau diinget-inget gue udah tua. Hiks. Kembalikan masa muda gue, hiks*.
 Emak-babeh gue sih ngasih nama gue bagus banget yaitu ‘Hanifati Laili Mazaya’ yang artinya anak solehah yang sempurna yang lahir di malam hari. Yang gue gak ngerti nama gue Hanifati, kenapa gak Hanifah? Tau gak jawab emak-babeh gue simpel, gue ini anak kedua, yang kebetulan kakak gue cewek, jadi otomatis emak-babeh pengennya punya anak cowok yang mau diberi nama Hanif. Hiks, jadi gue gak gitu diharapin lahir di dunia ini? *Nangis guling-guling*. Yang masih gak gue ngerti kenapa Laili bukan Laila biarlebih cewek? Atau kenapa harus diubah jadi Mazaya bukan pakai kata dasarnya Maziya. Well, dari semua itu gue di rumah dipanggil Hani, katanya supaya lebih manis. Kadang kalau emak-babeh lagi marah atau kesel sama gue dipanggilnya Hanot sih. *emak-babeh aja manggilnya udah gak bener* nama hani itu adalah awal dari julukan gue yang banyak banget.
Beranjak usia ke 3 gue punya banyak temen rumah. Ada Ina, Beben, Sherli, Maula, Asep, Marcel, Kak Johan, Kak Oneng, Intan, kakaknya Maula, kakaknya gue. Yah dari semua itu sih gue lebih sering main sama Ina, Beben, Sherli, Maula, Asep, Encel. Gue, Maula, Asep seumuran, Ina satu tahun di atas gue, Sherli satu tahun di bawah gue, sementara Beben, Marcel Beben beda dua tahun sama gue. Eh, gue bukan mau cerita silsilah pertemanan gue di komplek rumah deh. Di sini lah awal gue punya julukan. Berawal dari Beben yang sok dewasa bilang, “Eh, gue gak mau manggil lo Hani ah, tar pacar gue marah. Hani (Honey) kan artinya sayang,”
“Oh iya, bener juga tuh, gue gak mau ah!” tambah Asep.
“Emang kakak udah punya pacar?” tanya Sherli yang kebetulan emang adeknya Beben.
“Belum sih. jaga-jaga aja,” hahaha. Gile ye anak jaman SD pikirannya udah dewasa.
“Terus maunya gimana dong? Kan gue dari dulu emang dipanggil Hani,” tanya gue yang kebingungan.
“Iya, kasian ih, kalau diganti-ganti,” dukung Maula. Waktu itu sih gue seneng banget dibela Maula.
“Betul tuh kalau emang mau diganti namanya jadi apa gitu?” tanya Ina.
“Eh, gue tau! Gimana kalau Niza?” ucap Encel (nama panggilan Marcel).
“kok?” tanya gue. Disusul dengan pertanyaan yang sama dari yang lainnya.
“Iya Niza itu kata kedua dari nama awal dan akhir si Hani. haNIfati laili maZAya. Bener gak tuh?” ucap Encel.
“Sepakat!” ucap semuanya setuju.
Sejak saat itu gue dipanggil Niza sama mereka, seiring berjalannya waktu Asep yang kebetulan orang sunda (maaf sedikir ras) selalu manggil gue Nija dan berlanjut jadi Ijah. Hiks. *nangis dipojokan*. Kadang gue sering ngeluarin air mata kalau salah satu dari mereka manggil gue Niza, bukan gimana-gimana soalnya nama itu dibuat sama almarhum Encel. :’)
Gara-gara nama Niza juga si emak nyangka gue naksir sama cowok yang bernama Niza. Dan selalu diakhiri dengan kata-kata garang. “Awas, kamu ya, Han. Kalau berani-berani pacaran ibu gantung di pohon toge terus ibu potong-potong jadi dua belas.” Sejak saat itu gue trauma sama pohon toge yang sebenarnya juga gak pernah gue liat. Sampe pas gue dewasaan dikit gue sadar pohon toge tingginya juga gak nyampe 1 meter dan gak mungkin menampung berat gue yang besar ini. HAHAHAHAHAHAHAHA. *ketawa miris*
Memasuki jaman SD gue selalu dipanggil dengan nama Hanifa sama semua guru. Gue cuma bisa bete doang. Gimana ya, walaupun gue lebih suka punya nama Hanifa ketimbang Hanifati tapi tetep aja ketika gue udah punya nama itu, gue gak suka untuk diubah-ubah. Sama kayak hati sekali yang itu ya kalau bisa cuma itu. *ini kenapa malah melenceng kecinta-cintaan ya*. Memasuki kelas empat SD nama gue tiba-tiba diubah jadi Hanipetot sama seseorang. #eaaa. Nama gue diubah oleh wali kelas gue sendiri. Iya, guru kelas, namanya Pak Usman. Nama Beben aja diubah jadi Kusen (si Beben kan nama aslinya Shendy). Sedih gak sih? kusen kan yang ada di jendela. Sejak itu sampe kelas enam nama gue tetep dipanggil Hanipetot atau lebih miris lagi sering dipanggil Petot.
Nama panggilan gue gak berakhir sampe di situ aja. Di tempat les gue sering dipanggil Honey bunny sweety. Lebih naas lagi ketika salah satu temen se-les bernama Ganis mengubah nama gue jadi Honey bunny stupid. *mulai ngoreh-ngoreh tanah karena sedih*
Memasuki jaman SMP, walau udah gak sekolah di tempat yang sama kayak pas jaman SD tapi tetep aja siswa di SMP gue rata-rata adalah siswa dari SD yang sama dengan gue. Jaman SMP sih kayaknya Petot udah gak jaman. *fiuh, bisa bernafas lega sebentar.* Tiba-tiba aja nama gue jadi Hanipetet! JENGJENG, apa bedanya coba sama petot? Cuma beda vokal belakangnya doang. Disangka gue anaknya Didi Petet kali ya. Iya sih dulu rumah gue deketan sama Didi Petet (Ya, beda 7 gang lah dari rumah gue, jauh sih sebenarnya :P ) . Ya tapi kan gue anaknya bapak gue.
Lebih parah lagi pas kelas tiga SMP nama gue tiba-tiba diubah jadi Hanibal karena gue digosipin sama Tebal. Salah satu temen sekelas gue yang nama aslinya pun gue lupa siapa. Sialnya, si Tebal tuh suka senyum-senyum mesem kalau diceng-cengin dengan gue sama anak-anak sekelas, sementara gue berusaha ngelak. Siapa juga yang makin gak pengen ngegosipin?
Jaman-jaman SMA malah lebih parah lagi. Pas kelas 1 SMA sama beberapa teman sekelas gue, gue dipanggil Inah. Kebalikan dari Hani. Sedih gak sih? macem nama pembokat aja. Kebetulannya lagi pas SMA gue ikut ekskul pencinta alam gitu. Di sana setiap anak yang dilantik jadi anggota muda punya nama gunung. Gue dapet nama ‘Wanogo’. Mau tau artinya? Kira-kita aja artinya. Pokoknya manis banget deh artinya. #dusta. Berbekal dari kebudekannya si Jo, gara-gara ada yang manggil gue Hani dan Wanogo secara bersamaan, si Jo dengarnya Handoko. Jadi aja sejak saat itu temen-temen seangkatan gue manggil gue Handoko atau Handukin. #hiks
Masalah nama panggilang gue di MPL (singkatan nama pencinta alam di sekolah gue) tidak hanya sampai di situ saja. kebetulan ada temen seangkatan di MPL  yang beda kelas (dia kakak kelas gue) punya nama gunung Makelar. Gak tau kenapa gue jadi sering digosipin dengan dia. *naas ya hidup gue selalu aja digosipin menjalin hubungan sama cowo*. Masalahnya bukan di situ. Tapi nama belakang gue tercoreng karena gosip itu. Anak-anak yang lain bisa-bisanya ceng-cengin nama MAZAYA jadi ‘Makelar SaZA YA! ’. Maksa banget gak sih? belum selesai sampai di situ perihnya kehidupan SMA gue. #lebay.  Makelar itu kebetulan dipanggil Alenk di sekolah. Karena ceritanya gue menjalin hubungan sama dia jadi nama gue diubah dengan seenaknnya menjadi ‘Celeng’ singkatan dari ‘ceweknya aleng’. Sedih gak sih lo? Sedih gak sih? emangnya gue babi. *nangis darah* *guling-guling kayak babi* #nahloh.
Memasuki kelas dua SMA guru desain grafis gue lebih suka manggil gue dengan nama Aya. Entah apa alasannya. Kata beliau sih kan nama gue masih ada kata Aya-nya.  Gue sih setuju-setuju aja dipanggil Aya. Dibanding Celeng coba?! *masih gak mau terima dipanggil Celeng*.
Pas kelas tiga SMA lain lagi ceritanya. Pas jaman itu kebetulan lagi jaman-jamannya Idola Cilik. Kebetulan gue gak gitu suka nonton TV jadi kurang terlalu update tentang Idola Cilik.
“Eh, lo mirip Angel deh! Iya, mirip banget!” ucap seorang cowok yang duduk di belakang bangku gue setelah dua hari jadi anak kelas tiga SMA.
Gue tentunya syok setengah mati, kenal sama ini cowok aja belum tiba-tiba bilang gue mirip Angel. Emang dia udah pernah ngeliat malaikat gitu? Usut punya usut maksud cowok itu gue mirip Angel runner up Idola cilik 2. Gue speechless dong, nonton idola cilik aja gak pernah. Gak tau gimana caranya sejak saat itu nama gue jadi Angel. Bahkan Adit salah seorang teman yang kebetulan pernah se-SD sama gue, yang sekarang gak sekelas dan kelasnya jauh dari kelas gue, tiba-tiba datengin gue sambil bilang.
“Cie, Angel,”
                “Hah, apaan dit?”
                “Iya tau kalau diperhatiin kamu mirip Angel. Adek aku ngefans banget loh sama Angel. Lain kali main sama adek aku ya, ngel,”
                “Dit?” tanya gue dengan muka datar.
Semenjak saat itu kuping gue harus membiasakan diri kalau ada yang manggil-manggil Angel karena kemungkinan besar itu lagi manggil gue.
                Mantan gue yang kedua, pas pacarang selalu manggil gue ‘Nyang’ pas udah putus mangilnya jadi Hanifa. Sedih gak sih. padahal dari dulu gue bilang nama gue Hanifati. *curhat maxi*. Memasuki jaman perkuliahan tambah aneh. Emang sih gue daftar kuliah gak online, tapi registrasi secara manual di sekolah. Tapi kan pas daftar nama gue Hanifati, pas ngelingkarin nama juga sama kok. Tapi pas buka web penerimaan secara online tiba-tiba nama gue jadi Hanifa. Aneh kan, jadi aja gue harus ngurus nama dulu pas daftar ulang. -____-
                Makin banyaknya nama panggilang gue. Gue sampe binggung mau memperkenalkan diri dengan nama apa. Akhirnya gue tetap memperkenalkan diri dengan nama Hani. Sebenernya sih gue rada bingung mau ngaku-ngaku nama apa. Tapi karena gue orangnya jujur jadi aja gue ngaku naman gue Hani. :P  Sayangnya temen seangkatan ada juga yang bernama Hani. Untuk membedakannya ada salah seorang cowok di kelas yang menggil gue Han-two. Han-onenya yang satu lagi. Kenapa harus Hantwo? Dibacanya kan hantu. Gue kan masih hidup. *nangis kejer*.
                Lain lagi temen deket gue yang pada manggil gue Hanf*ck. Gue sih gak peduli dipanggil Ijah dll. Tapi f*ck jangan sampe deh. Walau hanya bercanda tetep aja artinya nyelekit dan tajam menurut gue. Setelah gue bilang gue gak suka nama itu akhirnya gak ada yang menggil pake nama itu lagi deh, tapi tetep aja gue nama gue jadi hanifat. Dengan sengaja fat-nya menggantung gara-gara gue gendut. *nyilet-nyilet lengan biar kurus*. Lain lagi ada ade kelas yang gak pernah manggil nama gue pake nama. Selalu ‘mbak’ emang dikiranya gue pembantunya? -___- Pas masa-masa KKN gue malah dipanggil Miss FTV karena gue kalau cerita suka lebay dan rame sendiri. atau karena hubungan percintaan gue sama Ito kayak FTV? #nahloh hahaha. jaman-jaman PKL nama gue juga berubah jadi hanipet. terus aja nama gue diubah-ubah. *huhuhuhuhu* #lebay mampus
                Jaman-jaman gue ikutan BEM ada salah satu teteh-teteh, sebut saja Teh Rini tina-tiba sering banget manggil gue bani. alesannya apa juga gue pun tak tau. Setiap ada acara BEM yang melibatkan gue pasti gue disebutnya Bani sama beliau. Pas jaman-jaman kepengurusan BEM terakhir lebih parah. Nama gue jadi MAWAR! Kenapa Mawar? Gue juga gak tau, tanyakan saja kepada rumput yang bergoyang.
                Sebenarnya dari semua nama yang gue sebutkan di atas. Gue lebih suka dipanggil Hani. Kenapa? Karena emak-babeh gue di rumah manggilnya juga Hani. Kalau gak suka manggil gue Hani, sebenarnya bisa manggi gue Han aja sih gue pasti nengok kok. Atau Ni juga nengok kok. Semakin banyaknya nama gue, kadang gue bingung kalau ada yang nanya nama gue siapa. Nama yang mana kan ada banyak? Makanya suatu saat nanti kalau ada yang nanya nama gue siapa kayaknya gue bakal bilang “My name is rain!”